Tuesday, November 14, 2017

Bilik Toilet

Izinkanku bercerita mengenai hari-hariku
kadang tangis bergema, kadang tawa meruah, tak pernah menentu
Selalu ada kejutan tiap menutup pintu


Lalu sama seperti biasanya, kau datang terburu-buru
dengan napas yang sengal dan keringat berlimpah
kau duduk sejenak, beristirahat sebelum mempersilakan tangis jatuh bebas
Waktu bergulir begitu lambat dan sepi


Izinkanku mengamati
Kau membenarkan solekan wajahmu dan beranjak pergi
berpikir telah sukses menghapus jejak tangis di mata dan pipi


Izinkanku berterus terang
kau bukan yang pertama
jauh dari itu,
mungkin kau yang keseribu


Sekatku memendam tangismu
dindingku menjadi saksi bisu


Izinkanku berbicara mengenai manusia
barangkali bilikku serupa dengan hubunganmu
Aku hadir dan memberi kesan serba pribadi di ruang umum
menawarkan kesendirian yang dapat dinikmati
menjadi tempat berlari maupun merias diri


Izinkanku berterus terang lagi
sejatinya aku bukan milikmu,
sama halnya seperti hubunganmu yang bukanlah properti pribadi


(Romansa masa kini berbicara mengenai cerita-cerita yang mesti didengar
mengenai rahasia-rahasia yang dijual bebas
mengenai campur tangan orang luar)


Izinkanku mengulang kembali
Nyatanya hubunganmu bukan milik dua orang saja
seperti ruang ini tidak dihuni oleh kau dan aku semata
seperti ruang ini menyediakan kepribadian fana
Karena romansa masa kini berbicara mengenai tangisan wanita di bilik toilet yang bising
berharap mendapat ketenangan hanya karena terbalut partisi yang menghalangi dan melindungi

1 comment: