Tuesday, May 27, 2014

Kecupan

Kecupan itu kukirim tadi pagi,
saat semua masih tengkurap dan terlelap.
Yang terdengar hanya suara adzan,
sayup-sayup dari kejauhan.
Semoga kecupan itu tak terhenti.
Kecupan yang telah dinanti-nanti.

Kecupanku tersengat matahari,
hingga berlindung di balik jemuran baju,
dan berteduh dibayangan mobil yang melaju.
Lalu terseret kaki-kaki bocah yang berlari,
mencium aspal panas berulang kali.

Kecupanku terbawa angin sore,
hingga tersesat diantara awan kelabu dan langit mendung.
Lalu turun bersama beribu rintik hujan,
mencium tanah tandus dan membasahi semua lahan.

Kecupanku telah tersengat, terseret, dan tersesat.
Hingga terlambat datang padamu.
Namun akhirnya kecupan itu menemui tujuannya,
alasan utama ia tercipta.
Dengan lembut kecupanku mendarat di pipi itu.
Tetap dengan cinta yang sama,
walau tak datang tepat waktu.

No comments:

Post a Comment