Monday, January 4, 2016

Pulih

Hujan kali ini tak baik hati
Menyerang badanku yang terlampau kering
dan butuh pelepas dahaga
Badan yang sudah berbulan-bulan sengsara

Bertubi-tubi turun tanpa henti
dengan kasar menyelimuti
Tamparan air datang tanpa memandang doa dan dosa
Ruah tak berjeda

Kulitku pecah dan butuh belaian air
Kulit yang tadinya tertutupi kehijauan
kini lapang, telanjang, dan sekarat

Meski sakit dan meriang
Ku tahu kesengsaraan kini
mengarah pada kebahagiaan nanti


Setiap bulir air yang menembusku
bergulir ke dalamku
seolah berbunyi


pilu
pilu
pilu
Pulih

Wednesday, December 9, 2015

Malaikat Tersesat

Di tengah kerumunan manusia tidak sempurna
Di antara bisik busuk
dan canda tawa
Di tengah mata-mata kosong
dan langkah kaki berat
Ada dia
Malaikat yang tersesat

Friday, October 9, 2015

Sayang, Kau Harus Tumbang

Dahulu hanya butuh tanah sepetak
kini memeluk langit dan menjalari bumi
Rindangmu menaungi
Kokohmu membentengi

Mampu menampung burung 
dan membuat daun menari
Semakin hari semakin gagah dan mandiri

Kau bahkan tak membutuhkanku lagi

Akankah kau marah
jika tahu bahwa kau ditanam
untuk ditebang?
Harimu telah ditetapkan
Takdir yang menunggu tak terelakkan

Kau kuhujani doa agar sehat
Namun nyawamu berakhir ketika kapak kuayun dengan kuat
Walau senang melihatmu tumbuh
kau harus kubunuh

Siapakah aku di matamu?
Seorang teman?
Atau sebuah musuh?

Friday, September 4, 2015

Kecupan Surga

Tak ada yang lebih indah
dari dua pasang mata yang mengatup rapat
Dan sensasi liar yang didapat
dari dua buah bibir 
yang melebur penuh nikmat
Dua jantung berdetak seirama
menghirup dan menghembuskan doa yang sama
Saling menyatakan cinta tanpa harus bicara
Kutemukan nirwana
dalam ciuman pertama

Wednesday, July 8, 2015

Cangkang yang Hampa

aku melihat tepat ke arahnya
wanita yang bercahaya
wanita yang sempurna

tawanya terdengar seperti rintihan duka
di pipinya terlihat goresan air mata
ia bingung harus mengenakan topeng yang mana
wanita itu letih berpura-pura
wanita itu lelah bersandiwara

aku melihat tepat ke arahnya
wanita yang merana
wanita dengan seribu muka

sebuah cangkang yang hampa

Tuesday, June 2, 2015

Renungan Malam #1

Ambil badanku
aku tak keberatan,
tubuh ini hanya cangkang.

Namun, jiwaku
jangan kau simpan.
Ia tak dapat kau genggam.

Bagai layangan yang ingin lepas,
tidak terikat oleh tali seutas.

Thursday, May 7, 2015

Anti Depresi

Berlari
Ia terus mengejar bayangannya sendiri
hingga letih merasuki dan ayunan kakinya berhenti
Perlahan merasakan kehampaan menyelimuti

Menangis
Yang terdengar hanya rintihan sang gadis
Ia ingin kesedihannya terkuras habis
Tak dapat diacuhkan lagi bisikan para iblis

Tenggelam
Terseret ke dasar jurang, disambut oleh kelam
Dahulu cerah, kini terlahap oleh kegelapan mencekam
Semua hanya ilusi, semua menjadi buram

Terjaga
Matanya mementang dan menemui realita
lalu sadar kenyataan tak begitu berbeda
Namun, kini ia tak sendirian berusaha
Bayangannya hadir untuk mengusir lara
dan melenyapkan duka